
Keterangan Gambar : Ketua Umum Pengurus Besar Al Jam'iyatul Washliyah, Dr. KH. Masyhuril Khamis, SH., MM, (foto aboe)
Jakarta, pjminews.com-Ketua Umum Pengurus Besar Al Jam'iyatul Washliyah, Dr. KH. Masyhuril Khamis, SH., MM, mengajak umat Islam menjadikan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H. sebagai momentum membangkitkan kembali semangat kepemimpinan yang amanah, keadilan ekonomi, dan akhlak mulia dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Menurutnya, Maulid tidak cukup dimaknai sebagai perayaan kelahiran Rasulullah, tetapi harus menjadi upaya menghadirkan kembali nilai-nilai perjuangan dan keteladanan Nabi dalam kehidupan nyata.
"Kita harus memaknai Maulid Rasul tentu tidak sekadar merayakan kelahiran, tetapi melahirkan kembali semangat, akhlak, dan ajaran Nabi ke dalam kehidupan nyata," ujar Masyhuril kepada pers di Jakarta, Selasa 25/8.
Masyhuril yang juga Ketua MUI Pusat Bidang Halal, Komisioner Badan Wakaf Indonesia (BWI), serta anggota Dewan Pertimbangan Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat, menegaskan bahwa Rasulullah SAW merupakan teladan yang sempurna dalam memimpin masyarakat.
Ia menjelaskan, dari sisi kepemimpinan, Nabi Muhammad SAW menunjukkan karakter seorang pemimpin yang amanah, menjunjung tinggi musyawarah, mengedepankan sikap toleran, namun tetap tegas dalam menegakkan hukum tanpa pandang bulu.
"Keteladanan Nabi Muhammad SAW dari sisi kepemimpinan adalah Beliau amanah, selalu mengutamakan musyawarah, tetap toleransi, tetapi berani bersikap tegas dalam menerapkan hukum, meskipun itu terjadi kepada anaknya sendiri," katanya.
Menurut Masyhuril, prinsip tersebut menjadi pelajaran penting bagi para pemimpin di Indonesia. Kepemimpinan yang berintegritas tidak boleh tunduk pada kepentingan pribadi, keluarga, maupun kelompok, melainkan harus berorientasi pada keadilan dan kemaslahatan masyarakat.
Ekonomi yang Berkeadilan
Selain kepemimpinan, Masyhuril juga menyoroti keteladanan Rasulullah SAW dalam membangun perekonomian umat. Ia mengingatkan bahwa Nabi tidak hanya berdakwah dalam aspek spiritual, tetapi juga membangun fondasi ekonomi yang sehat dan berkeadilan.
"Rasul membangun pasar, mendorong tumbuhnya usaha-usaha masyarakat atau UMKM. Itu merupakan bagian dari keadilan ekonomi, kepedulian sosial, dan semuanya dibalut dengan akhlak yang mulia," ujarnya.
Menurut dia, konsep ekonomi yang dicontohkan Rasulullah menempatkan kejujuran, keberpihakan kepada masyarakat kecil, serta pemerataan kesejahteraan sebagai prinsip utama. Karena itu, pemberdayaan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), penguatan ekonomi umat, serta pengembangan ekonomi syariah merupakan bagian dari implementasi ajaran Rasulullah di era modern.
Ia menilai, pembangunan ekonomi tidak boleh hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga harus menghadirkan keadilan sosial agar manfaatnya dirasakan seluruh lapisan masyarakat.
Tantangan Bangsa
Di bagian lain tausiahnya, Masyhuril menegaskan bahwa, nilai-nilai yang diajarkan Rasulullah SAW sangat relevan untuk menjawab berbagai persoalan yang dihadapi Indonesia saat ini.
Ia menyebutkan sedikitnya empat tantangan besar bangsa, yakni maraknya praktik korupsi, munculnya sikap intoleransi, ketimpangan ekonomi, serta degradasi moral di tengah masyarakat.
"Inilah yang saat ini sangat relevan untuk menjawab tantangan Indonesia yang sarat dengan korupsi, intoleransi, ketimpangan ekonomi, dan degradasi moral," katanya.
Menurut Masyhuril, berbagai persoalan tersebut bukanlah masalah yang berdiri sendiri, melainkan saling berkaitan. Korupsi lahir dari lemahnya integritas, ketimpangan ekonomi memicu ketidakadilan sosial, sementara intoleransi dan kemerosotan moral dapat mengancam persatuan bangsa.
"Sebab aspek-aspek ini saling berkaitan dalam membangun bangsa yang beradab, sejahtera, dan bersatu," ujarnya.
Karena itu, ia mengajak seluruh elemen bangsa, khususnya umat Islam dan keluarga besar Al Jam'iyatul Washliyah, untuk menjadikan akhlak Rasulullah sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari, baik sebagai pemimpin, pelaku usaha, pendidik, maupun anggota masyarakat.
Perubahan
Masyhuril berharap peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW tidak berhenti pada kegiatan seremonial semata. Menurutnya, kecintaan kepada Rasulullah harus diwujudkan dalam perilaku nyata, seperti memperkuat kejujuran, kepedulian sosial, semangat bermusyawarah, serta membangun ekonomi yang berpihak kepada masyarakat.
Ia juga mengingatkan bahwa bangsa Indonesia membutuhkan lebih banyak figur yang meneladani akhlak Rasulullah, sehingga cita-cita mewujudkan Indonesia yang adil, makmur, dan bermartabat dapat tercapai.
"Maulid Nabi harus menjadi momentum untuk menghadirkan kembali nilai-nilai Rasulullah dalam keluarga, masyarakat, dunia pendidikan, pemerintahan, dan kehidupan ekonomi. Dengan begitu, kita tidak hanya mencintai Nabi melalui lisan, tetapi juga melalui tindakan nyata," tuturnya.
Melalui peringatan Maulid 1448 H, Al Jam'iyatul Washliyah mengajak umat Islam menjadikan ajaran Nabi Muhammad SAW sebagai inspirasi dalam membangun Indonesia yang beradab, memperkuat persatuan, memberantas korupsi, mengurangi kesenjangan ekonomi, serta meneguhkan akhlak mulia sebagai fondasi kehidupan berbangsa.***(pjmi/IL)









LEAVE A REPLY